05022015 adalah hari jadian saya sama
fauzan. Fauzan adalah lelaki yang saya sayangi, yang saya cintai, yang selalu
menemani saya kemanapun kapanpun, dia tidak pernah marah-marah bahkan dialah
yang lebih sabar menghadapi sifat buruk saya seperti anak kecil, susah di atur
atau di bilangin, selalu ada disamping saya, pernah cemburu dengan lelaki lain,
yang rela mau antar saya pulang sampai kerumah padahal rumah saya sangat jauh
(jakarta pusat ke depok), lelaki yang bisa menerima kekurangan saya karena saya
memakai “Alat Bantu Pendengar”, jika saya tidak bisa mendengar apa yang orang lain
omong dengan jelas maka dialah yang selalu membantu saya seperti memberi tahu
apa yang orang lain omong. Memang sebelumnya saya pernah mendapatkan lelaki
yang bisa menerima kekurangan saya tetapi kurang, mengapa? Terlihat seperti “terpaksa”.
Jika memang lelaki yang ingin mencintai saya maka dia harus bisa menerima
kekurangan saya. Kelebihan saya tidak terlalu kelihatan, jadi kekurangan saya
jelas. Saya orangnya kurang berbaur, selalu suka pilih-pilih teman. Pernah saya
ikut kumpul, main, pergi sama teman-teman saya, tetapi terkadang saya suka di
manfaatin. Pernah saya curhat tentang masalah saya ke teman-teman saya, namun
teman-teman tidak mengerti apa yang saya maksud dan mereka selalu mengikuti apa
kata-kata teman saya yang saya punya masalah. Semenjak itu saya hanya diam dan
tidak ingin curhat ke siapapun seperti merasa trauma buat curhat ataupun
terbuka karena tidak ada satupun yang percaya saat itu. Lalu datanglah seorang
lelaki yang bernama Fauzan Hilmy
yang mau mendengar semua curhatan saya, semua apa yang saya sudah pendami
selama ini, semua apa yang saya rasakan disaat saya disakiti oleh teman-teman
saya, semua apa yang saya rasakan disaat saya sendiri. Dia memang pernah
merasakan hal yang sama dengan saya seperti masalah dengan temannya namun tidak
parah, dia masih bisa berteman dengan mereka, masih bisa di ajak main, pergi,
ngobrol, tidak seperti saya. Sepertinya semua sudah hilang karena salah satu
teman yang merusaki persahabatan saya, namun tidak bisa seperti dahulu lagi,
yang selalu kumpul, pergi, main, dll, melakukan sesuatu yang menyenangkan
tetapi semua hilang, tidak ada satupun yang mau mengalah, akhirnya saya mengalah,
seharusnya yang sudah mengalah jika memang salah, maka harus minta maaf. Tetapi
beda dengan saya, hati saya sudah terlanjur luka, sakit. Dan ada beberapa
sahabat saya untuk menyuruh saya memaafkan mereka di dalam hati saja, begitu
juga lelaki saya. Sempat saya berfikir ingin minta maaf ke mereka secara
langsung tetapi percuma. Saya rasa pasti ada “pembelaan”. Pasti akan semua
terasa sia-sia. Di saat saya sendiri, lelaki saya selalu menemani saya, selalu
ada disamping saya. Karena saya selalu berdua sama lelaki saya di kelas maupun
di luar kelas, ada beberapa teman kelas saya untuk mencoba berbaur begitu juga
dia, namun saya tidak bisa karena rasa trauma pun tidak bisa di hilangkan. Oleh
karena itu, saya selalu memilih teman atau yang sudah sering main sama saya,
yang sudah tau bagaimana saya menghadapi teman-temannya dari sejak dulu hingga
sekarang. Teman atau sahabat yang bisa menerima sifat buruk dan tidak bisa di
tinggalkan, janganlah menyakiti mereka maka harus menghargai mereka. Adapun
orang yang ingin merusaki hubungan saya namun tidak berhasil karena lelaki saya
tidak suka atau tidak mau mendengarkan, sepertinya saya bersyukur dan tidak
membuat saya “negatif thinking” but i believe he never doing it, he’s the best
boy i ever had. Saya pernah merasakan cemburu dengan wanita lain, begitu juga
dia pernah merasakan hal yang sama, setelah itu kami bisa mengerti satu sama
lain. Pasangan memang harus seperti itu mengerti apa yang dirasakan atau apa
yang harus dilakukan agar tidak membuat cemburu berlarut-larut ataupun
berlebihan.
foto waktu makrab tetapi tidak saling kenal hanya sebatas tahu :D
foto waktu liburan bareng di Kalibiru, Yogyakarta
